CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Dentuman Tradisi, Ledakan Petaka

Penulis: Yuliantoro 22 Feb 2026 2 menit baca
Diperbarui Februari 25, 2026
Ilustrasi rumah petasan meledak. Sumber: catrawarta
Bagikan:
0

catrawarta.com - Belum genap sepekan Ramadhan 1447 H, dua ledakan petasan sudah merenggut korban. Di Pandansari, Kertek, Wonosobo, seorang pemuda luka bakar saat merakit petasan. Sehari sebelumnya di Situbondo, satu orang meninggal dunia dan enam lainnya luka serius akibat ledakan serupa. Peristiwa beruntun ini menegaskan bahwa petasan bukan sekadar insiden teknis, melainkan fenomena sosial berulang yang selalu hadir setiap momentum perayaan.

Di banyak daerah, petasan telah menjadi tradisi turun-temurun. Di Tongroyongan, Pamekasan, dentuman menjadi bagian pesta tahunan. Di Melangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Ramadan dan jelang Lebaran kerap diramaikan suara ledakan. Bahkan di sejumlah sudut Yogyakarta, anak-anak muda menyulut petasan usai subuh sebagai ekspresi kegembiraan. Tradisi ini hidup karena dianggap penanda momentum—simbol selebrasi kolektif yang diwariskan generasi ke generasi.

Sejarah mencatat, petasan diperkenalkan komunitas Tionghoa sejak abad ke-15 sebagai simbol perayaan dan penolak bala. Dalam perkembangannya, bahan peledak rakitan bahkan pernah dimanfaatkan sebagai alat perlawanan sebelum dilarang pemerintah kolonial. Namun dalam konteks modern, negara telah mengatur tegas penggunaan bahan peledak melalui Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, dengan ancaman pidana berat. Larangan khusus juga pernah ditegaskan pada era Orde Baru setelah insiden besar tahun baru 1971.

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Masalahnya, norma hukum sering berbenturan dengan norma sosial. Petasan hari ini tidak lagi sekadar simbol sakral, tetapi berubah menjadi arena performatif—siapa paling keras, paling besar, paling berani. Tradisi mengalami komodifikasi. Bahan baku mudah diakses, produksi berlangsung informal, dan euforia musiman bercampur dengan adrenalin remaja. Dalam ruang padat penduduk, risikonya bukan hanya cedera permanen, tetapi kebakaran dan kematian.

Pendekatan represif semata terbukti tidak cukup. Razia rutin tetap tidak menghapus praktik ini karena di dalamnya ada unsur tradisi dan ekonomi. Tetapi membiarkannya juga bukan pilihan. Negara tidak boleh kalah oleh kebiasaan yang mengancam keselamatan publik. Tradisi tidak boleh menjadi tameng pembenar bagi praktik berbahaya.

Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Ironis ketika momentum spiritual justru diwarnai ledakan akibat dorongan sesaat. Tradisi seharusnya memperkuat kohesi sosial, bukan menciptakan duka tahunan yang berulang.

Karena itu, yang diperlukan bukan sekadar pelarangan, tetapi rekontekstualisasi makna. Ekspresi kegembiraan harus dialihkan pada bentuk yang aman, kreatif, dan selaras dengan nilai keselamatan. Pemerintah, tokoh agama, dan komunitas perlu membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga nyawa adalah bagian dari menjaga tradisi itu sendiri. 

Jika tidak, dentuman itu akan terus terdengar setiap tahun—bukan sebagai tanda suka cita, melainkan gema petaka yang sama.

Tags:
#korban #Meledak #Mercon #Petasan #wonosobo
PenulisYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Wahjudi Djaja • 22 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Indonesia Mampu Produksi Mobil Pick-Up, Tak Perlu Impor
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network