CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Ini Dadaku, Mana Dadamu!

Penulis: Yuliantoro 16 Feb 2026 2 menit baca
Diperbarui Februari 28, 2026
Ilustrasi Mahasiswa harus kritis berani mengoreksi pemimpin.
Bagikan:
0

catrawarta.com - Mahasiswa akhirnya bersuara lagi. Kalimat keras yang menyasar langsung pusat kekuasaan disampaikan Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM. Ia menyebut langsung pembuat kebijakan bodoh yang terjadi. Gaya bicaranya mengingatkan kita pada kalimat ikonik Soekarno, “Ini dadaku, mana dadamu!” Tantangan moral bagi siapa pun yang memilih diam saat nurani seharusnya bersuara.

Pernyataan Tiyo yang viral, “Presiden bodoh” bukan sekadar makian. Ia adalah kritik keras atas cara berpikir kekuasaan, yang menurutnya menutup diri dari pembelajaran, lalu menormalisasi kebijakan yang keliru. Catatan ini tidak menghakimi pribadi siapa pun tapi kepedulian terhadap nalar kebijakan, dampaknya bagi publik, serta keberanian untuk mengoreksi ketika negara melenceng dari tujuan kesejahteraan.

Ketika Tiyo menyebut anggaran ratusan triliun sebagai “maling berkedok gizi”, ia sedang mengajak publik memeriksa data, menimbang prioritas, dan menuntut akuntabilitas. Apakah belanja publik benar-benar menjawab masalah gizi struktural—akses pangan, kualitas layanan kesehatan, dan kemiskinan—atau justru terjebak pada proyek simbolik? Verifikasi meliputi angka, mekanisme, dan hasil menjadi penting dan harus terbuka. Kritik menjadi sahih ketika bertumpu pada data, bukan asumsi.

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Lebih jauh, Tiyo menyatakan mengalami teror dan ancaman setelah menyoroti tragedi anak di NTT. Catrawarta mencatatnya sebagai pengakuan yang perlu diverifikasi dan ditindaklanjuti secara hukum, bukan diglorifikasi atau dipelintir. Negara yang sehat melindungi kebebasan berekspresi warganya, terutama mahasiswa, tanpa mengendurkan prinsip kehati-hatian pada informasi.

Mengapa suara seperti ini terasa langka? Sejak Reformasi 1998, energi gerakan mahasiswa yang dulu mampu mengoreksi rezim Soeharto perlahan meredup. Ironisnya, pada era pemerintahan sipil—termasuk masa Joko Widodo—ruang kritik kampus justru senyap. Keberanian dan tradisi intelektual bisa kalah oleh pragmatisme, ketakutan, atau kelelahan moral.

Mahasiswa bukan oposisi permanen, keberaniannya berbasis nalar dan akal sehat. Kritik yang edukatif adalah kritik yang mengajak publik berpikir, bukan membelah. Ia memprovokasi—dalam arti terbaik—untuk membaca anggaran, menelaah kebijakan, dan menagih janji.

Penting untuk belajar dari Tiyo dengan melakukan verifikasi sebelum bersuara, jujur pada data, berani pada risiko, dan santun pada publik. Kampus di seluruh Indonesia perlu menyalakan kembali diskursus—bukan dengan caci maki, melainkan dengan argumen yang menembus tembok kekuasaan.

Jika mahasiswa kembali mengambil peran sebagai kader intelektual—kritis, cerdas, bermartabat, dan pemberani—demokrasi kita memperoleh oksigen. Dan ketika oksigen itu mengalir, kekuasaan akan kembali lurus pada mandatnya yakni melayani rakyat. Ini dada kami. Mana dada Anda?

Tags:
#Berani #Kritis #mahasiswa #Pemimpin #Prabowo Subianto
PenulisYuliantoro
Alumni Sosiologi UGM (1995), jurnalis dan penulis yang menekuni isu sosial, budaya, dan kebijakan publik.
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Wahjudi Djaja • 22 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Gajah Bersihkan Sampah Bencana, Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network