CATRAWARTA
  • Warta
  • Catra Cendekia
  • Catra Milenia
  • Catra Budaya
  • Catra Wisata
  • Etalase
  • Idea Catra
  • Pena Catra
BERITA TERBARU
Pena Catra

Pesan dari Jogja

Penulis: Wahjudi Djaja 25 Mei 2026 3 menit baca
Ilustrasi sri sultan hb x dan megawati soekarno putri dok Catrawarta
Ilustrasi Sri Sultan HB X dan Megawati Soekarnoputri (Dok. Catrawarta)
Bagikan:
0

catrawarta.com - Pertemuan Megawati Soekarnoputri dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Keraton Yogyakarta pada 22 Mei 2026, nampaknya menyedot perhatian publik. Pertemuaan tokoh bangsa yang akrab semenjak belia di tengah gersangnya iklim politik nasional ini seolah mengirim sinyal tentang banyak hal.

Jamak dipahami peta politik nasional banyak didominasi oleh narasi yang hampir semuanya lepas dari ekspektasi publik. Suara wakil rakyat nyaris tak terdengar meski beragam masalah tengah membelit rakyat. Presiden Prabowo Subianto, seperti biasa, hadir dengan wacana, janji dan rencana meski segala kekuasaan nyaris berada di tangannya. Orang sampai bertanya, ini apa bedanya masa kampaye dengan masa berkuasa. Di sisi lain partai politik, pers dan kalangan akademisi seperti kehilangan peran kebangsaannya.

Dalam konfigurasi politik nasional yang monoton dan stagnan itu, Megawati merapat ke Keraton Yogyakarta untuk menemui sahabat lamanya. Hangat bersahabat, akrab nemun masing-masing tak bisa melepaskan kharismanya. Keduanya, bersama Amien Rais dan Gus Dur pernah menyedot perhatian publik saat pertemuan Ciganjur pada 10 November 1998 untuk menata kekuatan sipil selepas tumbangnya Soeharto. Lalu, pesan apa yang bisa dibaca dari Pertemuan Keraton pada 22 Mei 2026?

Baca Juga
5 artikel
  1. Pena Catra Teladan Kejujuran →
  2. Pena Catra Keluar dari ”Sarang Penyamun” →
  3. Pena Catra Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan →
  4. Pena Catra Korupsi Bukan Dominasi Elite →
  5. Pena Catra Etika Petinggi Negeri →

Pertama, keprihatinan atas kehidupan bangsa dan negara yang kian jauh dari falsafah negara Pancasila. Kita tahu kapasitas dan komitmen kedua tokoh yang sama-sama dilahirkan pendiri bangsa ini. Indonesia yang dicita-citakan kedua orang tuanya, Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bukan seperti sekarang ini. Pemimpin tanpa keteladanan, penyimpangan dibiarkan, hukum diabaikan, dan kehidupan rakyat yang kian terjepit dalam kesulitan. Itu lebih dari cukup untuk menjadi pertemuan keduanya.

Kedua, ketiadaan keharmonisan di antara para pejabat negara menjadikan kehidupan bangsa penuh kasak-kusuk, tanpa haluan dan berjalan zig-zag. Korupsi tetap menjadi misteri kenapa sulit ditangani, sedang postur APBN sudah mengalami defisit sebesar Rp164,4 triliun pada April 2026. Dalam kondisi seperti itu, efisiensi yang sempat direncanakan masih jauh panggang dari api. Hal ini bisa dilihat dari pelaksanaan program MBG dan KDMP yang tiba-tiba belanja kendaraan tanpa tahu kegunaan.

Ketiga, kehancuran ekologis akibat nafsu pembabatan hutan atau perkebunan sawit tidak saja telah mencerai-beraikan keanekaragaman flora fauna tetapi juga menghancurkan cadangan masa depan untuk anak cucu. Utang kita semakin besar, lapangan kerja menyempit, dan alam mengalami kerusakan. Dalam konteks ini, kedua tokoh bangsa merasa terpanggil untuk menyuarakan.

Lebih dari sekedar daerah istimewa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Yogyakarta adalah oase peradaban bagi bangsa ini. Lebih dari empat tahun, saat menjadi ibukota negara, Yogyakarta menopang kebutuhan dan kehidupan negara. Tak banyak yang tahu, APBN pertama kita didanai dengan khas keraton. Tanah dan gedung milik kesultanan dipakai untuk operasional kementerian.

Lalu, setelah uang keraton habis, Indonesia kembali ke Jakarta pada 1949. Itulah kenapa Bung Karno sangat hormat pada Ngarsa Dalem IX. Itulah kenapa Megawati dan Sri Sultan menjalin hubungan yang hangat dan akrab.

Kita berharap, kedua tokoh mampu memayungi kehidupan bangsa. Memberikan inspirasi dan pemikiran agar Indonesia segera bangkit tegak berdiri dan mandiri. Tak bisa dibiarkan nasib ratusan juta anak bangsa tergadai oleh korporasi asing hanya karena pemimpinnya gagal dalam membaca dan memaknai Pancasila. Semoga.

Ksatrian Sendaren, 25 Mei 2026

Tags:
#Budaya #Keraton #megawati #Megawati Soekarnoputri #NKRI #Sri Sultan #Sri Sultan HB X
Male singer on stage, wearing a white robe and head wrap, holding a microphone and raising one arm.
PenulisWahjudi Djaja
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer

Pena Catra

Teladan Kejujuran

Wicaksana • 7 Okt 2026
Pena Catra

Keluar dari ”Sarang Penyamun”

Wicaksana • 4 Okt 2026
Pena Catra

Affandi, Chairil Anwar dan Revolusi Kebudayaan

Wahjudi Djaja • 24 Sep 2026
Pena Catra

Korupsi Bukan Dominasi Elite

Wicaksana • 21 Sep 2026
Pena Catra

Etika Petinggi Negeri

Wicaksana • 15 Sep 2026
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026

Berita Terkait

Lebih banyak ›
A magnifying glass over a cafeteria tray highlighting a pile of rice on the top compartment with bread and a mug in the background
Pena Catra

Jangan ‘Racuni’ Anak Kami

Wicaksana • 8 Sep 2026
Firefighter climbs a towering wall of stacked papers as flames rage in the background with people observing from the top
Pena Catra

Kegagapan Menghadapi dan Mengatasi Bencana

Wicaksana • 31 Agu 2026
Wide city avenue leads to a neoclassical government building as journalists with cameras and microphones line the street awaiting a press statement under a red flag
Pena Catra

Akhir Cerita ‘Demonstrasi’

Wicaksana • 28 Agu 2026
Children in white shirts carry buckets and try to douse flames as a wildfire ravages a forest behind them
Pena Catra

Pemadaman Kebakaran Hutan, Jangan Libatkan Anak-Anak!

Wicaksana • 24 Agu 2026
Protesters stand on the roof of a neoclassical government building raising fists beside the indonesian garuda emblem amid cracks and torn banners
Pena Catra

Mengapa Mereka Marah?

Wicaksana • 17 Agu 2026
Rocket bound by chains within a red no entry circle over a city skyline conveying a prohibition or ban on missiles
Pena Catra

Nuklir untuk Perdamaian

Wicaksana • 9 Agu 2026
Indonesian official in a beige uniform and black peci sits at a desk with a microphone tablet papers and a small indonesian flag
Pena Catra

Komunikasi Nirempati

Wicaksana • 3 Agu 2026
Stylized portrait of a high ranking officer in a dark green ceremonial uniform with gold epaulettes medals and a sword seated in a carved chair
Pena Catra

Wirya, Arta dan Winasis

Wahjudi Djaja • 22 Jul 2026
0
Follow us on
Up Next: Ismail marzuki sumber idntimes Com Mengulik Cara Ismail Marzuki Mencintai Negeri Ini
Ikuti Media Sosial Kami
  • Facebook
  • Instagram
  • X
  • Youtube
  • Tiktok
Menu
  • Warta
  • Catra Milenia
  • Catra Cendekia
  • Catra Budaya
  • Pena Catra
  • Idea Catra
  • Catra Wisata
  • Etalase
Informasi
  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Jl. Sunan Ampel No.167, Jaban, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Kontak

redaksi@catrawarta.com
+62 819 887078

© Copyright CATRAWARTA
Catrawarta Theme by Dabtive Network