catrawarta.com - Kecelakaan yang melibatkan taksi listrik Green SM Indonesia dengan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur merupakan potret telanjang tentang wajah modernisasi Indonesia yang bergerak cepat di permukaan. Wajah modernisasi Indonesia tertatih-tatih dalam membangun peradaban dasar pada nilai kedisiplinan, etika masyarakat, dan keselamatan.
Indonesia ini sedang berlari menuju masa depan. Mobil listrik digaungkan di mana-mana. Simbol kemajuan digitalisasi transportasi selalu disanjung. Smart city menjadi jargon kebanggaan penguasa. Jalan-jalan dipenuhi reklame papan nama transisi energi dan teknologi hijau. Modernisasi membahana di berbagai sudut kota. Pada saat yang sama, kita hidup di alam publik yang semakin kehilangan akal sehat.
Trotoar dikuasai motor. Lampu merah dianggap saran. Klakson menjadi bahasa utama di jalan raya. Marka lalu lintas hanya dekorasi. Rel kereta diterobos seperti garis tak berarti. Dan ketika kecelakaan terjadi yang mengemuka bukan membangun kesadaran. Semua orang sibuk mencari kambing hitam.
Kecelakaan di perlintasan kereta bukan cerita baru. Musibah berulang seperti ritual nasional yang tak pernah selesai. Tahun demi tahun korban jatuh, video viral beredar, investigasi diumumkan, lalu semuanya kembali normal. Tidak ada perubahan mentalitas yang sungguh-sungguh. Inilah masalah terbesar bangsa ini. “Modernisasi fisik melaju lebih cepat daripada modernisasi perilaku.”
Kita membangun kendaraan abad ke-21, tetapi mengoperasikannya dengan budaya abad kekacauan. Kita bangga memakai teknologi tinggi, tetapi gagal mempraktikkan kedisiplinan paling sederhana. Akibatnya, ruang publik berubah menjadi arena saling rebut, saling serobot, dan saling mendahului tanpa empati.
Dalam konteks itu, tragedi Green SM bukan hanya soal sopir, palang pintu, atau kelalaian sesaat. Tragedi ini adalah akumulasi dari budaya tergesa-gesa yang terus dipelihara.
Semua orang diburu waktu. Sopir diburu setoran. Pekerja diburu target. Kota dipenuhi kemacetan yang menguras emosi. Sistem transportasi sering tidak manusiawi. Akhirnya masyarakat hidup dalam tekanan psikologis permanen: jangan terlambat, jangan kalah cepat, jangan tertinggal.
Di tengah situasi seperti itu, risiko dianggap biasa. Menerobos rel menjadi keputusan spontan yang lahir dari budaya survival harian. Padahal kereta tidak mengenal kompromi. Sekali salah hitung, nyawa taruhannya.
Yang lebih menyedihkan, bangsa ini sering memaknai modernitas sebatas benda dan infrastruktur. Kita mengira kemajuan cukup diukur dari kendaraan listrik, jalan tol, kereta cepat, atau aplikasi digital. Padahal inti peradaban modern justru terletak pada penghormatan terhadap aturan dan keselamatan manusia.
Negara-negara maju bukan maju pada kecanggihan teknologi. Lebih dari itu, warganya memiliki disiplin publik yang kuat. Orang berhenti saat lampu merah meski jalan kosong. Pejalan kaki dihormati. Perlintasan kereta dipatuhi tanpa tawar-menawar. Keselamatan dianggap budaya, bukan sekadar slogan.
Sementara di Indonesia, ketertiban masih sering dipahami sebagai keterpaksaan karena ada polisi. Ketika pengawasan hilang, pelanggaran muncul. Ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif kita masih rapuh.
Karena itu, tragedi di rel kereta Bekasi Timur semestinya dibaca lebih dalam daripada sekadar berita kecelakaan. Tragedi rel kereta api Bekasi adalah peringatan sosial. Bahwa bangsa ini sedang mengalami ketimpangan antara kemajuan teknologi dan kematangan peradaban. Kita terlalu sibuk membangun mesin, tetapi lupa membangun manusia.
Padahal sehebat apa pun teknologi, ia akan selalu kalah jika dijalankan oleh budaya sembrono. Mobil listrik tetap bisa hancur di rel kereta. Smart city tetap kacau jika warganya gemar menyerobot. Digitalisasi tetap gagal jika mentalitas publik masih memuliakan jalan pintas. Modernisasi tanpa peradaban akhirnya hanya melahirkan ilusi kemajuan.
Gedung boleh tinggi. Kendaraan boleh canggih. Aplikasi boleh pintar. Tetapi jika nyawa masih kalah oleh tergesa-gesa, maka sesungguhnya bangsa ini belum benar-benar maju.









