catrawarta.com - Sejumlah tokoh publik, pejabat, hingga seniman mendatangi rumah duka seniman teater Yogyakarta, Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso, di Mantrijeron, Kota Yogyakarta.
Di antara jajaran pelayat yang hadir sejak malam hingga Selasa (22/9/2026) siang, tampak mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hingga Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan memberikan penghormatan terakhir.
Melalui unggahan di media sosialnya, Ganjar Pranowo turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kepulangan sang seniman. “Sugeng tindak Mas Susilo Den Baguse Ngarsa. Innalillahiwainnailaihirojiun. Dunia seni Indonesia berduka atas kepulanganmu, mas. Terimakasih atas dedikasimu selama ini. Swargi langgeng nggih mas, kulo bersaksi njenengan tiyang sae. Alfatihah,” tulis Ganjar.
Pelayat Berdatangan ke Rumah Duka
Tetangga almarhum, Simon, mengonfirmasi kedatangan Ganjar Pranowo beserta jajaran pejabat lainnya yang berbaur bersama masyarakat dan komunitas seni di rumah duka. Simon menuturkan bahwa arus kedatangan pelayat tak berhenti sejak kabar duka tersiar.
“Tadi malam itu ada Mas Jujuk Prabowo datang. Kemudian tadi ada Pak Ganjar rawuh. Terus dari perwakilan dari Pakualaman rawuh, nggih. Ini juga ada Pak Wawan (Wakil Wali Kota Jogja). Dari tadi pagi, dari malam kemarin banyak sampai siang hari ini,” tutur Simon.
Kedatangan para tokoh dan kerabat dalam jumlah besar tersebut memberikan penghiburan tersendiri bagi keluarga almarhum. Kakak kandung almarhum, Sukanti, mengibaratkan kehadiran para pelayat layaknya aliran air yang tiada putusnya.
“Bahasa Jawanya banyu mili, datang pergi, datang pergi, tapi banyak. Ya itu cukup melegakan karena, berarti banyak orang yang menganggap Mas Susilo jos sebagai teman atau sebagai kolega,” ungkap Sukanti.
Rekam Jejak Susilo Nugroho
Kehadiran para pejabat dan rekan sejawat tidak lepas dari rekam jejak almarhum sebagai figur penting dalam dunia kesenian dan panggung kritik sosial. Budayawan Yogyakarta, Bambang Paningron, menilai sosok pemeran karakter legendaris dalam serial Mbangun Desa tersebut bukan sekadar pelawak, melainkan figur penyeimbang di masyarakat.
“Jogja kehilangan salah satu penjaga akal sehatnya. Mas Susilo Den Baguse Ngarso itu bukan sekadar pelawak. Dia adalah guru yang memilih panggung sebagai ruang kelasnya. Dari Mbangun Deso sampai Teater Gandrik, beliau mengajarkan kita bahwa kritik bisa disampaikan dengan guyon, tapi guyonannya tidak pernah kosong,” kata Bambang.
Seniman rekan sejawat almarhum, Warsana Kliwir, turut menegaskan bahwa kerendahan hati almarhum membuat banyak orang dari berbagai kalangan merasa dekat dengannya. Menurutnya, almarhum senantiasa merawat komunikasi tanpa memandang status sosial.
“Pak Sus di mata saya adalah guru saya, sekaligus partner, dan dia bisa berdiskusi. Dia meskipun nama besar, dia tidak pernah menganggap dirinya besar,” puji Warsana.
Senada dengan hal itu, seniman Kukuh Kudamai mengenang almarhum sebagai sosok inklusif yang terbuka berdiskusi dengan siapa saja, mulai dari isu sejarah hingga politik.
“Sosok yang sederhana, terus murah ilmu. Jadi, dia itu selalu berbagi ilmu tentang sejarah, metode keaktoran, terus perkembangan politik, kebudayaan, dan yang lain sebagainya itu beliau selalu sharing. Pak Sus itu menurutku saya anggap beliau itu kayak guru tapi dia tidak pernah merasa menggurui,” terang Kukuh.
Susilo Nugroho Meninggal di Rumah
Susilo Nugroho yang menghembuskan napas terakhir pada Senin (21/9/2026) diketahui tidak pernah mengeluhkan sakit sebelum meninggal dunia. Sukanti menceritakan almarhum memiliki pola hidup terjaga dan sering bersenda gurau di angkringan dekat rumahnya sebelum ditemukan tak kunjung bangun hingga sore hari.
“Dia tuh makan juga hati-hati, selama ini kalau makan tidak pernah makan nasi. Dia tuh kalau makan nasinya tuh jagung. Makan juga enggak banyak. Tidak pernah mengeluh apa-apa,” jelas Sukanti.
Rangkaian prosesi pelepasan jenazah diawali dengan ibadah penghiburan pada pukul 15.00 WIB. Selanjutnya, jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir pada pukul 16.00 WIB untuk dikebumikan di Makam Keluarga Krapyak, Panggungan, Sewon, Bantul.









