catrawarta.com - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk anak dipastikan tidak berhenti pada tahap pemeriksaan atau skrining awal. Pemerintah menegaskan setiap temuan masalah kesehatan, mulai dari karies gigi hingga risiko gangguan mental, harus ditindaklanjuti agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius di kemudian hari.
Penegasan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk ”Setahun Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Anak, Apa Selanjutnya?” yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama RCCE Indonesia dan Wahana Visi Indonesia di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Berdasarkan evaluasi program sejak Februari 2025 hingga Februari 2026, sebanyak 23,5 juta anak telah mengikuti CKG. Namun, tingginya cakupan pemeriksaan tersebut belum sepenuhnya diikuti tindak lanjut medis terhadap anak yang memiliki masalah kesehatan.
Balita Berisiko Tuberkulosis
Data CKG menunjukkan, sebanyak 95 persen balita yang berisiko tuberkulosis (TB) belum menjalani tes konfirmasi. Temuan lainnya mencakup tingginya kasus anemia, peningkatan tekanan darah, masalah kesehatan mental, serta karies gigi.
Masalah karies menjadi salah satu perhatian utama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dia meminta fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas, tidak hanya melakukan pemeriksaan, tetapi juga mampu memberikan penanganan.
”Hasil CKG gigi paling jelek di anak-anak. Tiga puluh sampai empat puluh persen giginya bermasalah. Nomor satu karies, nomor dua masalah gusi. Pastikan semua puskesmas tidak hanya punya kursi gigi, tetapi juga bisa menambal dan merawat akar gigi,” ujar Budi.

Kesehatan Mental Remaja Jadi Perhatian
Selain kesehatan fisik, Budi menyoroti pentingnya tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan kesehatan mental anak dan remaja. Anak usia SMP dan SMA yang terindikasi mengalami kecemasan atau depresi perlu segera mendapatkan layanan konseling.
Layanan tersebut dapat dilakukan melalui platform telemedisin maupun dengan memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah.
Persoalan lain yang disoroti adalah transparansi hasil pemeriksaan kepada anak dan orang tua. Hasbi, salah satu siswa yang mengikuti program CKG di sekolahnya, mengaku tidak mendapatkan informasi lengkap mengenai hasil pemeriksaan kesehatannya.
”Di sana kita periksa tinggi badan, berat badan, tekanan darah, sampai ambil darah untuk tes Hb (Hemoglobin/Sel Darah Merah). Tapi hasilnya tidak dikasih tahu apa saja,” tutur Hasbi.
Menurut Hasbi, keterlambatan edukasi dan rujukan medis juga berdampak pada penanganan masalah gigi yang dialaminya. Ia bahkan harus menjalani pencabutan gigi pada usia 15 tahun karena masalah tersebut terlambat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Hasil CKG Harus Sampai ke Orang Tua
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi mendukung pelibatan anak secara aktif dalam program CKG. Dia menegaskan hasil skrining tidak boleh hanya menjadi data atau arsip pemerintah, tetapi harus menjadi dasar intervensi kesehatan bagi anak.
”Data ini bukan hanya angka mati di komputer, tetapi harus disampaikan kepada orang tua agar mereka tahu kondisi anaknya dan langkah edukasi apa yang harus dilakukan selanjutnya,” katanya.
Arifatul mendorong kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan Dinas Pendidikan, Tim Penggerak PKK, hingga Forum Anak di tingkat kelurahan untuk memastikan tindak lanjut hasil pemeriksaan berjalan secara optimal dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
Mulai 2027, Ukuran Keberhasilan Berubah
Sebagai bagian dari evaluasi program, mulai 2027 keberhasilan CKG tidak lagi hanya diukur berdasarkan jumlah anak yang menjalani pemeriksaan. Pemerintah akan mengukur keberhasilan berdasarkan rasio temuan penyakit yang berhasil ditangani.
Kemenkes juga berkomitmen menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi anak yang memiliki ”rapor kesehatan” berstatus kuning atau merah.
Dengan perubahan indikator tersebut, CKG diharapkan tidak sekadar menjadi program pemeriksaan massal, tetapi menjadi pintu masuk untuk memastikan setiap masalah kesehatan anak ditemukan lebih dini dan mendapatkan penanganan hingga tuntas.









