catrawarta.com - Pihak pengelola parkir di kawasan Alun-Alun Selatan (Alkid) Yogyakarta akhirnya buka suara menepis tudingan pungutan liar (pungli) bernominal Rp1 juta per hari yang viral di media sosial. Pengelola menegaskan bahwa biaya tersebut bukan tarif parkir biasa untuk satu unit armada food truck, melainkan kompensasi atas pemblokiran lahan seluas 25 meter di sebelah timur Sasana Hinggil.
Pengelola parkir setempat, Supriyo Dwi Hartanto, meluruskan kronologi yang bermula saat perwakilan pelaku usaha mendatangi lokasi untuk mensterilkan area parkir dari kendaraan umum selama jam operasional kegiatan pukul 15.00–22.00 WIB.
”Jadi sebenarnya bukan kita meminta satu food truck harganya Rp1 juta, itu tidak. Tapi mereka ‘ngeblok’ area. Dari timur gedung sampai pintu, panjangnya kurang lebih 25 meter dengan lebar 5 sampai 6 meter itu disterilkan,” ujar Supriyo pada Jumat (18/9/2026).
Pendapatan Parkir Hilang
Supriyo menjelaskan, keputusan mensterilkan lahan berimbas pada hilangnya potensi pendapatan para juru parkir yang biasa melayani kendaraan wisatawan. Atas dasar tersebut, kompensasi disepakati untuk mengganti ruang parkir yang terpakai.
”Kalau untuk parkir umum, area seluas itu harusnya bisa muat tujuh sampai delapan unit mobil, belum lagi sepeda motor. Karena sudah dibeli atau diblokir untuk event, ya kita sterilkan dan tidak berani menerima parkir kendaraan lain,” kata Supriyo.
Terkait keluhan biaya konsumsi, Supriyo membantah adanya pemaksaan dari pihak pengelola. Dia menegaskan bahwa uang makan sebesar Rp1 juta untuk durasi lima hari justru murni penawaran dari kru pedagang.
”Terkait konsumsi atau uang makan, dari pihak kru sendiri yang menawarkan, bukan kita yang meminta. Anggota kita ada 15 orang, tetapi saya cuma tulis 10 orang. Akhirnya dikasih Rp1.000.000 untuk konsumsi selama lima hari. Jadi bukan Rp1 juta sehari untuk makan,” tambah Supriyo.
Kembalikan Uang ke Pelaku UMKM
Senada dengan Supriyo, pengelola parkir Alkid lainnya, Lilik Budi Santoso, menduga ada kesalahpahaman informasi antara pemilik usaha dengan staf operasional yang diutus ke lapangan. Setelah kabar ini ramai diperbincangkan, pihak pedagang resmi membatalkan sisa jadwal kegiatan yang sedianya berlangsung pada 16–20 September 2026, dan pengelola telah mengembalikan sebagian dana yang sempat disetorkan.
”Pihak mereka konfirmasi untuk cancel dan meminta pengembalian dana. Total yang sempat disetorkan awal itu Rp6 juta. Jadi, Rp5 juta untuk area parkir lima hari dan Rp1 juta uang makan. Karena cancel pertengahan jalan, uangnya sudah kita kembalikan separuh sesuai kesepakatan dan yang mereka minta. Sudah diselesaikan lewat transfer,” papar Lilik.
Dia menegaskan, ”Sepertinya itu (owner) cuma dapat laporan dari kru atau stafnya, karena yang bersangkutan tidak langsung (datang ke lapangan). Ada empat orang yang datang ke Sasana Hinggil kemarin.”
Viral di Media Sosial
Sebelumnya, pemilik usaha kuliner Bolosego, Dyah Laily Fardisa, mengunggah kekecewaannya di platform TikTok usai memilih mundur dan memindahkan operasional ke Semarang meski telah mengantongi izin resmi dari Keraton Yogyakarta.
“Dengan berat hati mau sampaikan ini baru satu hari food truck berjualan di Alun-alun Kidul dengan berat hati kita umumkan tidak mangkal di sana. Harusnya tanggal 16 sampai 20 sudah jadi keputusan kita tidak lanjut. Jogja ki medeni,” keluh Dyah dalam videonya.
Dia menambahkan, ”Beginilah adanya, buka lapak di Alun-alun kidul tantangannya banyak birokrasi untuk mendapat izin kita gunakan jalur resmi bersurat ke Kraton biar dapat tanda tangan Kanjeng Ratu. Tak pikir selesai, ternyata punglinya banyak. Kita bayar parkir Rp1 juta per hari itu saja udah nego yang awalnya Rp2,5 juta per hari.”
Dyah juga mengklaim dibebani kewajiban memberi jatah makan bagi petugas di lokasi serta menerima panggilan telepon dari oknum yang mengatasnamakan kepolisian.
”Dan enggak sampai di situ aja ternyata kita ditelepon juga pihak kepolisian, ‘ini saya kirim tiga Polisi ke sana tolong dirumat makannya’, belum lagi ada kebutuhan colokan listrik buat masak enggak dikasih, katanya ada tambahan lagi,” imbuhnya.









